Rabu, 31 Agustus 2011

Mempertahankan Iman dan Tauhid di Akhir Zaman

,

MEMPERTAHANKAN IMAN DAN TAUHID DI AKHIR ZAMAN

Muhammad Ihsan Tandjung

Masjid Al-Muhajirin - Pondok Mekarsari Permai – Cimanggis-Depok

01 Syawwal 1432 H / Agustus 2011

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون أشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله اللهم صلي على محمد و على آله و أصحابه و أنصاره و جنوده و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Segala puja-puji, keagungan dan kemuliaan hanyalah milik Allah سبحانه و تعالى .

Sholawat-salam-sejahtera kita sampaikan kepada manusia pilihan yang mengajarkan kita hakikat iman dan islam…imamul muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan
qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam/em>, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Tak lupa khotib mengajak jamaah untuk mendoakan saudara-saudara kita kaum muslimin, mukminin, muwahhidiin dan mujahidin fii sabilillah di berbagai belahan bumi yang sedang didera berbagai kesulitan. Baik karena bencana alam berupa banjir, gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus dan lain sebagainya. Maupun karena kezaliman fihak para thaghut(penguasa zalim) musuh-musuh Allah yang memerangi, memboikot, memfitnah hingga memenjarakan mereka. Ya Allah, berilah kesabaran kepada mereka dalam menghadapi berbagai ujian hidup ini. Ya Allah, berilah kesabaran kepada anak-isteri para mujahidin dan du’at mukhlishin dimanapun mereka berada. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

Jamaah sholat Idhul Fitri, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah…

Lima belas abad yang lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallammemperingatkan kita bakal datangnya suatu masa dimana badai fitnah menyelimuti dunia mengancam iman dan tauhid kaum muslimin. Badai fitnah itu menjadikan dunia sedemikian gelapnya sehingga kaum Muslimin tidak sekedar melakukan dosa-dosa kecil, bahkan tidak pula dosa-dosa besar. Namun melakukan puncak dosa, yaitu riddah alias murtad. Wa na’udzubillaahi min dzaalika…!

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا

وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

“Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir dipagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 169)

Dosa puncak ialah menjadi murtadnya seseorang setelah tadinya ia beriman..!

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ

أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 217)

Kian hari kian terasa betapa zaman yang sedang kita jalani dewasa ini merupakan potongan zaman yang sarat dengan fitnah. Inilah zaman yang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم dalam haditsnya yang berbunyi:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا

جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Nabi صلى الله عليه و سلم besabda: “Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga seandainya mereka menempuh (masuk) ke dalam lobang biawak kalian pasti akan mengikutinya”. Kami bertanya; “Ya Rasulullah, apakah yang engkau maksud kaum Yahudi dan Nashrani?”. Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka).” (Hadits Shahih Riwayat Bukhari No. 3197)

Kepemimpinan barat atas dunia modern dewasa ini jelas mencerminkan dominasi the Judeo-Christian Civilization (peradaban Yahudi-Nasrani) atas ummat manusia, termasuk ummat Islam di dalamnya. Sehingga tidak sedikit kaum muslimin yang terjangkiti virus ”taqlid” mengekor kepada tradisi dan jalan hidup mereka. Kita lihat betapa banyaknya muslim yangmengekor kepada mereka dalam berbagai tata kehidupan seperti sistem hukum, politik, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Allah سبحانه و تعالى bahkan me-warning kita bahwa inilah karakter dasar kaum Yahudi dan Nasrani.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (tradisi/jalan hidup/agama) mereka. (QS. Al-Baqarah [2] : 120)

Bagaimana mungkin suatu ummat yang memiliki Kitabullah Al-Qur’an yang Allah jamin kebenaran dan keasliannya dapat diarahkan oleh ummat-ummat yang Kitab Sucinya –yakni Taurat dan Injil- telah mengalami kontaminasi dan manipulasi penyimpangan di sana-sini?

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Kepemimpinan the Judeo-Christian Civilization (peradaban Yahudi-Nasrani) atas ummat manusia berusaha menularkan nilai-nilai kekufuran yang ada dalam diri mereka kepada siapa saja, termasuk kaum muslimin yang asalnya beriman. Sehingga tidak sedikit kaum muslimin di berbagai belahan dunia mulai mengekor kepada pandangan hidup kaum kuffarpemimpin global dunia dewasa ini. Padahal Allah سبحانه و تعالى secara tegas melarang kita untuk memberikan loyalitas kepada mereka. Memberikan loyalitas maknanya adalah menjadikan mereka sebagai pemimpin yang diikuti. Bahkan Allah سبحانه و تعالى mengancam bahwa siapa saja muslim yang memberikan loyalitas kepada kaum yahudi dan nasrani, berarti ia telah menjadi bahagian dari golongan mereka alias keluar dari golongan kaum muslimin. Barangsiapa yang ber-wala’ (memberikan loyalitas) kepada kaum kuffar berarti ia telah murtad dan ikut menjadi kafir, betapapun ia masih rajin mengerjakan sholat, berpuasa, bersedekah, pergi haji dan berbagai amal sholeh lainnya layaknya seorang muslim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5] : 51)

Di dalam ayat lainnya Allah سبحانه و تعالى memperingatkan akan akibat menjadi murtad bila menjadikan sebagian ahli Kitab (kaum yahudi dan nasrani) pemimpin yang diikuti.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali-Imran [3] : 100)

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Iman dan tauhid merupakan fondasi sekaligus miftahul jannah (kunci pembuka pintu surga) bagi setiap muslim. Namun sekedar melafalkannya tidak serta-merta menyebabkan seseorang terjamin pasti masuk surga dan terbebaskan dari api neraka yang menyala-nyala. Mengapa? Karena Allah سبحانه و تعالى menyuruh kita menerima kalimat tauhid dengan ilmu dan pemahaman. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid tanpa ilmu tidak mungkin menjalankan konsekuensi iman dan tauhidnya itu. Makna utama kalimat tauhid dijelaskan Allah سبحانه و تعالىdi dalam ayat berikut:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ

“Maka barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat (kalimat Laa ilaaha ill-Allah) yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah [2] : 256)

Berarti makna utama iman dan tauhid seseorang ialah berpadunya di dalam diri “ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah”. Sedangkan di dalam ayat lainnya Allah سبحانه و تعالىmenjelaskan apa yang menjadi pesan abadi para Rasul utusan Allah dari zaman ke zaman, dari suatu negeri ke negeri lainnya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl [16] : 36)

Pesan abadi para Rasul ialah menyerukan ummatnya masing-masing untuk ber-tauhid yang maknanya ialah “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. Dalam ilmu tauhid, seruan untuk hanya beriman dan menyembah Allah سبحانه و تعالى merefleksikan kewajiban al-wala’(memberikan loyalitas) kepada Allah سبحانه و تعالى berikut Rasul-Nya صلى الله عليه و سلم . Sedangkan seruan untuk menjauhi dan mengingkari thaghut merefleksikan kewajiban al-bara’(berlepas diri) dan tidak berasosiasi/mendukung/bekerjasama dengan thaghut.

Untuk bagian pertama, yaitu urusan beriman dan menyembah Allah سبحانه و تعالى sudah cukup banyak kajian yang membahasnya. Namun untuk urusan menjauhi dan mengingkari thaghut masih jarang sekali yang membicarakannya. Padahal pemahaman mengenai masalah al-wala’dan al-bara’ ini merupakan ashlud-dien (pokok ajaran agama). Sah atau tidaknya iman dan tauhid seseorang mensyaratkan hadirnya secara lengkap al-wala’ dan al-bara’. Seorangmuwahhid (ahli tauhid) sejati tidak hanya sibuk dalam mengokohkan iman dan penghambaan dirinya kepada Allah سبحانه و تعالى , tetapi ia juga serius menjauhi dan mengingkari thaghut. Ketidak-sahihan iman dan tauhid seseorang akan berakibat fatal. Berbagai amal sholeh dan amal ibadah jika tidak berlandaskan iman dan tauhid yang sah hanya akan menjadi sia-sia. Amalnya akan terhapus dan menjadi fatamorgana.

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالإيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa yang kafir terhadap keimanan maka hapuslah amalannya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah [5] : 5)

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Mengingat langkanya kajian yang membahas kewajiban menjauhi dan mengingkari thaghut, maka tentu pertanyaannya sekarang ialah “apakah thaghut” itu?

Ibnul Qoyyim berpendapat bahwa thaghut merupakan apa saja atau siapa saja yang dilampaui batas oleh manusia sehingga diibadati, diikuti dan ditaati. Berarti thaghut bisa banyak. Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah menulis “Risalah Fii Makna Thaghut” yang menyimpulkan ada lima thaghut utama:

Pertama, iblis atau syetan. Ini merupakan thaghut utama yang Allah سبحانه و تعالى perintahkan setiap muslim untuk memusuhinya. Dan Allah سبحانه و تعالى larang manusia agar jangan sampai menjadi penyembah syetan.

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankah Aku (Allah سبحانه و تعالى ) telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syetan, sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.” (QS. Yaasin [83] : 60)

Apakah ada manusia yang menyembah syetan? Ada…! Di dalam kitabnya berjudul “Sistem Dajjal”, Ahmad Thomson menerangkan bahwa di balik fenomena Novus Ordo Seclorum (New World Order alias Tatanan Dunia Baru) yang sedang dirancang oleh the judeo-christian civilization untuk menyambut kehadiran pemimpin mereka -yakni Ad-Dajjal- terdapat the Unseen Force (kekuatan yang tidak tampak) berupa berbagai Secret Societies (Masyarakat Rahasia) bentukan kaum Yahudi. Organisasi masyarakat rahasia ini berskala global-mendunia dan ada yang bernama gerakan Freemasonry, Illuminati, Knight Templars atau Kabbalah. Mereka merekrut influential figures (tokoh berpengaruh) seperti para kepala negara, menteri-menteri, petinggi militer, para artis dan selebritis, pebisnis kaya-raya, pimpinan media-massa, saintis, para pemikir bahkan para pendakwah, baik ulama, rahib, rabbi maupun pendeta.

Di dalam buku Gerakan Freemasonry, seorang ulama yang mendapat hidayah Allah سبحانه و تعالى sehingga bertaubat dan akhirnya berhasil keluar dari organisasi tersebut menjelaskan bahwa Freemasonry merupakan sebuah masyarakat rahasia berjenjang hingga 33 peringkat. Di setiap peringkat seorang anggota wajib membacakan ikrar/sumpah/bai’at. Ketika ulama ini hendak disumpah pada peringkat ke 30 barulah ia sadar bahwa organisasi yang digelutinya selama ini ternyata merupakan sebuah hizbusy-syetan (partai atau pasukan syetan). Sebab ia diharuskan melafalkan bai’at yang diawali dengan kalimat “In the name of Lucifer…” (dengan nama Iblis aku bergabung dengan organisasi ini)…! Ulama inipun sadar bahwa ini merupakan sebuah masyarakat rahasia yang menghimpun para ‘abadat-thaghut (para penyembah thaghut syetan) sekaligus para anshor ad-Dajjal (para pembela Ad-Dajjal). Wa na’udzu billaahi min dzaalika.

Kedua, penguasa atau pemerintahan yang zalim. Yaitu fihak yang memiliki otoritas atas suatu wilayah namun tidak menegakkan kedaulatan dan hukum Allah سبحانه و تعالى di wilayah tersebut.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ

يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa [4] : 60)

Pemerintah yang adil meletakkan hukum Allah سبحانه و تعالى atau hukum Al-Qur’an atau hukum Islam pada tempat tertinggi. Sedangkan pemerintah yang zalim meletakkan hukum selain hukum Allah سبحانه و تعالى pada posisi yang tertinggi, seperti misalnya hukum produk manusia, maka itu berarti ia telah mengajak masyarakat untuk berhukum kepada thaghut padahal Allahسبحانه و تعالى memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingkari thaghut. Thaghut berupa penguasa atau pemerintahan zalim ini merupakan jenis thaghut yang paling sering menjadi penentang utama da’wah tauhid yang diserukan oleh para Nabiyullah‘alaihimussalamsepanjang zaman. Kisah pertentangan antara para Nabiyullah ‘alaihimussalam dengan thaghut penguasa zalim banyak disebut Al-Qur’anul Karim. Di antaranya kisah pertentangan Nabiyullah Nuh ‘alahissalam versus para thaghut pemuka kafir kaumnya, Nabi Ibrahim ‘alahissalam versus thaghut Namrud, Nabi Musa ‘alahissalam versus thaghut Fir’aun, ashabul-kahfi (para pemuda gua) versus thaghut Raja Dekyanus, Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم versus thaghut Abu Jahal-Abu Lahab cs dan kelak nanti Nabi Isa ‘alahissalam bersama Al-Imam Al-Mahdi versus thaghut penguasa zalim paling dahsyat sepanjang zaman, yaitu fitnah thaghut Al-Masih Ad-Dajjal…!

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Thaghut utama yang ketiga ialah orang-orang yang memutuskan perkara tidak berdasarkan apa-apa yang Allah سبحانه و تعالى telah turunkan. Mereka merumuskan dan memutuskan hukum dan perundang-undangan tidak berlandaskan hukum Allah سبحانه و تعالى yang tertuang di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim. Allah سبحانه و تعالى berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah [5] : 44)

Thaghut jenis ketiga ini divonis kafir oleh Allah سبحانه و تعالى karena telah merampas salah satu hak prerogratif Allah سبحانه و تعالى yaitu haqqut-tahliil dan haqqut-tahriim (hak menetapkan mana perkara yang halal/legal dan mana perkara yang haram/illegal). Di era penuh fitnah seperti sekarang hegemoni Sistem Dajjal di bidang hukum sangat terasa. Sedemikian hebatnya hegemoni nilai-nilai kekafiran di bidang hukum sehingga kita menyaksikan banyaknya kaum muslimin yang masuk ke dalam perangkap meyakini bahwa selain hukum Allah سبحانه و تعالىdapat menjamin keadilan dan kebenaran. Allah سبحانه و تعالى menegaskan bahwa salah satu misi utama diutusnya para Nabiyullah ‘alaihimussalam ialah untuk memastikan Kitabullah yang diwahyukan kepada mereka berlaku sebagai Kitab Hukum untuk memutuskan berbagai perkara yang diperselisihkan manusia. Al-Qur’an bukan hanya sebuah Kitab Suci tapi juga Kitab Hukum yang secara jelas, tegas, adil dan benar membedakan perkara yang halal (baca: legal) dari perkara yang haram (baca: illegal).

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ

مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS Al-Baqarah [2] : 213)

Keempat, termasuk thaghut utama ialah orang yang mengaku tahu perkara yang ghaib selain Allah سبحانه و تعالى . Inilah kalangan yang biasa disebut di dalam hadits dengan istilah “kahin”atau dukun, ahli nujum, paranormal, klenik, ahli mistik, peramal atau “orang pinter”. Padahal Allah سبحانه و تعالى berfirman sebagai berikut:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

“(Dia adalah Allah سبحانه و تعالى ) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.” (QS. Al-Jin [72] : 26-27)

Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم dengan keras melarang kaum muslimin mendatangi dan mempercayai apa yang dikatakan oleh thaghut jenis keempat ini. Bahkan beliau mengancam bahwa siapa saja yang melakukan hal demikian berarti ia telah murtad dari agama Islam…!

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Barangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka ia telah kafir dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad صلى الله عليه و سلم .” (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Majah No. 631)

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Terakhir, thaghut utama kelima ialah orang yang diibadati dan ia rela dan senang dengan peribadatan tersebut. Jenis thaghut ini seringkali berupa para pemuka agama. Karena mereka seringkali mendapat pernghormatan dari masyarakat, jamaah, murid-murid, anak-buah, kader-kader di sekeliling dirinya. Akhirnya pemuka agama itu menjadi lupa diri, kemudian berpendapat atau berfatwa tidak dilandasi oleh ayat Allah سبحانه و تعالى (Al-Qur’an) atau Hadits Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم. Ia terlalu bangga akan tsiqoh (kepercayaan) serta tho’ah(ketaatan) jamaahnya yang memandangnya sebagai Kyai, Ajengan, Mursyid, Habib, Imam, Amir, Ustadz atau Qiyadah yang selalu benar dalam ucapan maupun perbuatan. Jiwa kritis orang-orang di sekelilingnya menjadi mati. Tradisi keilmuan diganti dengan pola indoktrinasi. Keharusan memahami diganti dengan sikap dogmatis dalam mempercayai dan mematuhi sang pemuka agama. Allah سبحانه و تعالى berfirman:

وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

“Dan barang siapa di antara mereka mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (QS. Al-Anbiya [21] : 29)

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Demikianlah lima thaghut utama yang bila seorang muslim sanggup menjauhi serta mengingkarinya berarti ia telah memenuhi salah satu rukun penting kalimat tauhid. Kelima jenis thaghut di atas seringkali terkait erat dengan the judeo-christian civilization yang sedang mendominasi kepemimpinan global dunia di era badai fitnah dewasa ini. Bahkan peradaban Sistem Dajjal (baca: Novus Ordo Seclorum/ New World Order) sangat berkepentingan untuk melestarikan peranan para thaghut tersebut demi menyambut kehadiran puncak thaghut di akhir zaman, yakni thaghut Ad-Dajjal. Sikap separuh-separuh dalam ber-tauhid dapat menimbulkan penyakit riddah…!
Wallahu ‘alam bish-shawwaab.

DOA

رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (QS. Al-Kahfi [18] : 10)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Fuqon [25] : 74)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Ali-Imran [3] : 147)

اللهم إني أعوذبك بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta dari jahatnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR Muslim)

0 komentar to “Mempertahankan Iman dan Tauhid di Akhir Zaman”

Posting Komentar

Sponsor

forummarketingcash.com Klik Disini

Outbrain