Oleh Halimah
Beberapa hari ini, aku teringat seseorang. Seorang wanita yang lebih dari sepuluh tahun lampau pernah ‘menjentik’ raga seseorang. Dan, hasilnya, saat ini aku lihat pada dirinya.
Mungkin ini cerita biasa, dan mungkin pula cerita basi bagi sebagian orang. Tapi berangkat dari rasa, yang merasa sayang tak berbagi hikmah, maka aku mulai menggerakkan jari-jemariku saat ini, walau tadi malam hampir-hampir tak bisa memejamkan mata. Keinginan ini sangat kuat, dan mengalahkan ragaku yang sedikit lemah. Semoga ini hidayah bagiku, agar tak kendor untuk selalu bersemangat menaburkan hikmah di sepanjang kehidupanku, karena insya Allah, hasilnya akan dipetik di hari kemudian.
Ceritanya begini. Saat aku melintasi rumah seseorang, tuan rumah masih duduk-duduk di depan rumahnya, dan barusan seorang wanita yang umurnya agak muda, yang merupakan seorang ibu, melangkah keluar dari halaman rumah itu. Tapi saat aku berselisih jalan, karena aku mau jalan lurus, dan dia memotong jalanku, karena ingin menuju rumahnya, sempat aku mendengar lontaran kata yang bagiku cukup ‘sakit’ di dengar.
Si empunya rumah, mengeluarkan kata walau cukup pelan, dan memandang punggung belakang wanita yang telah mampir ke rumahnya, dengan wajah yang cukup sinis.
“Kegemukan sih!”, begitulah wanita itu berujar, dan suara itu walau pelan, tapi cukup kuat untuk diterima oleh telingaku dan telinga yang diumpat itu.
Saat itu aku tetap melangkah, walau sedikit melambatkan irama langkah, sambil berkata-kata dalam hati, salah apakah wanita itu padanya? Bukankah dia tidak memberinya makan? Karena wanita itu cukup mampu. Kenapa dia harus menghina wanita itu, bahkan menghina raganya, yang jelas-jelas adalah ciptaan Allah Swt. Karena perbuatannya itulah aku menjadi tahu, dan sedikit menjaga jarak untuk tidak terlalu sering bersisian, karena takut suatu saat akupun akan mendapatkan kepahitan lidahnya.
Bertahun, aku sudah mulai lupa akan kejadian itu. Tapi berkat kejadian itulah, aku jadi tahu, bahwa memang lidah yang tak bertulang ini, sungguh mudah untuk melukai perasaan orang-lain. dan, semoga aku bisa menahan diri dan membiasakan diri untuk berusaha tidak menajdi demikian.
Setelah aku lupa kejadian itu, aku sering mengamati wanita yang dulunya, menyakitkan hati seseorang. Wanita yang punya setajam silet itu, sakit, katanya sakit itu lebih dari sepuluh tahun. Sakit yang membuatnya menderita, dan telah berobat ke beberapa dokter dan herbal, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Saat aku berjumpa dengannya pada suatu waktu, aku memandangi wajahnya dan badannya yang hampir setipis papan, dan aku mulai teringat dengan kejadian lampau itu.
Mungkinkah penyakit wanita itu ada hubungannya dengan wanita itu? Karena menghina seseorang, dan saat ini memang dia tidak gemuk, tapi dia hampir seperti mayat hidup, karena badannya, hampir ditinggalkan oleh dagingnya. Aku terus memerhatikan dirinya, dan ingin mengatakan, apakah dia tidak ingat kejadian sepuluh tahun lampau? Tapi lidahku terlalu kelu untuk mengatakan itu, aku belum punya strategi untuk bisa menyampaikan ketajaman lidahnya, dulunya. Dan berharap mungkin dia bisa meminta maaf.
Ada lagi sebuah peristiwa di kampusku, dulunya. Seorang wanita yang merasa dirinya cukup cantik , berpakaiannya pun terlihat dari keluarga papan atas. Saat seorang lelaki yang sebenarnya cukup aktif di kampus, datang kepadanya, dan mengatakan dia ingin menajdi pendampingnya, wanita itu mengatakan hal yang tak sepantasnya dikeluarkan.
“Kamu berkaca dulu!”, begitulah kuranglebih redaksi kata yang diberikannya kepada lelaki yang merupakan seorang pelatih beladiri.
Setelah wanita itu lulus dari kuliahnya, akhirnya menikah dengan seorang pria yang berasal dari pengusaha yang cukup terkenal di kota Samarinda. Tapi, setelah menikah, kami baru tahu, lelaki itu jauh dari tampan baik wajah dan raganya, bahkan kemampuan otaknya. Walau dia berasal dari keluarga mampu, ternyata dia tak mampu untuk meneruskan sekolah di perguruan tinggi karena lelaki yang menjadi suaminya itu, tak bisa berpikir telalu keras. Mulai dari kecil, dia selalu dipenuhi permintaannya, bila tidak, dia akan mengalami kejang-kejang. Dan mental yang lemah itu terbawa hingga dia dewasa.
Cukuplah dua cerita wanita di atas aku sampaikan kali ini. Dua wanita yang merasa dirinya ‘lebih’ hingga mampu mengoyak perasaan oranglain, dan mungkin pula orang yang telah ditusukkan pedang katanya yang tajam, berbisik kepada Penciptanya atas penghinaan yang dilakukan kepada dirinya, yang notabene juga merupakan hasil ciptaan Allah Swt.
Balasan yang diterima kedua wanita itu, mungkin hasil dari dosa mulut yang telah dilakukannya. Aku hanya bisa mengatakan mungkin, karena hanya Allah Swt. yang tahu hal ynng sebenarnya.
Sangatta, 16 September 2011
Halimah Taslima
Forum lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sangatta
Halimahtaslima@gmail.com
Beberapa hari ini, aku teringat seseorang. Seorang wanita yang lebih dari sepuluh tahun lampau pernah ‘menjentik’ raga seseorang. Dan, hasilnya, saat ini aku lihat pada dirinya.
Mungkin ini cerita biasa, dan mungkin pula cerita basi bagi sebagian orang. Tapi berangkat dari rasa, yang merasa sayang tak berbagi hikmah, maka aku mulai menggerakkan jari-jemariku saat ini, walau tadi malam hampir-hampir tak bisa memejamkan mata. Keinginan ini sangat kuat, dan mengalahkan ragaku yang sedikit lemah. Semoga ini hidayah bagiku, agar tak kendor untuk selalu bersemangat menaburkan hikmah di sepanjang kehidupanku, karena insya Allah, hasilnya akan dipetik di hari kemudian.
Ceritanya begini. Saat aku melintasi rumah seseorang, tuan rumah masih duduk-duduk di depan rumahnya, dan barusan seorang wanita yang umurnya agak muda, yang merupakan seorang ibu, melangkah keluar dari halaman rumah itu. Tapi saat aku berselisih jalan, karena aku mau jalan lurus, dan dia memotong jalanku, karena ingin menuju rumahnya, sempat aku mendengar lontaran kata yang bagiku cukup ‘sakit’ di dengar.
Si empunya rumah, mengeluarkan kata walau cukup pelan, dan memandang punggung belakang wanita yang telah mampir ke rumahnya, dengan wajah yang cukup sinis.
“Kegemukan sih!”, begitulah wanita itu berujar, dan suara itu walau pelan, tapi cukup kuat untuk diterima oleh telingaku dan telinga yang diumpat itu.
Saat itu aku tetap melangkah, walau sedikit melambatkan irama langkah, sambil berkata-kata dalam hati, salah apakah wanita itu padanya? Bukankah dia tidak memberinya makan? Karena wanita itu cukup mampu. Kenapa dia harus menghina wanita itu, bahkan menghina raganya, yang jelas-jelas adalah ciptaan Allah Swt. Karena perbuatannya itulah aku menjadi tahu, dan sedikit menjaga jarak untuk tidak terlalu sering bersisian, karena takut suatu saat akupun akan mendapatkan kepahitan lidahnya.
Bertahun, aku sudah mulai lupa akan kejadian itu. Tapi berkat kejadian itulah, aku jadi tahu, bahwa memang lidah yang tak bertulang ini, sungguh mudah untuk melukai perasaan orang-lain. dan, semoga aku bisa menahan diri dan membiasakan diri untuk berusaha tidak menajdi demikian.
Setelah aku lupa kejadian itu, aku sering mengamati wanita yang dulunya, menyakitkan hati seseorang. Wanita yang punya setajam silet itu, sakit, katanya sakit itu lebih dari sepuluh tahun. Sakit yang membuatnya menderita, dan telah berobat ke beberapa dokter dan herbal, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Saat aku berjumpa dengannya pada suatu waktu, aku memandangi wajahnya dan badannya yang hampir setipis papan, dan aku mulai teringat dengan kejadian lampau itu.
Mungkinkah penyakit wanita itu ada hubungannya dengan wanita itu? Karena menghina seseorang, dan saat ini memang dia tidak gemuk, tapi dia hampir seperti mayat hidup, karena badannya, hampir ditinggalkan oleh dagingnya. Aku terus memerhatikan dirinya, dan ingin mengatakan, apakah dia tidak ingat kejadian sepuluh tahun lampau? Tapi lidahku terlalu kelu untuk mengatakan itu, aku belum punya strategi untuk bisa menyampaikan ketajaman lidahnya, dulunya. Dan berharap mungkin dia bisa meminta maaf.
Ada lagi sebuah peristiwa di kampusku, dulunya. Seorang wanita yang merasa dirinya cukup cantik , berpakaiannya pun terlihat dari keluarga papan atas. Saat seorang lelaki yang sebenarnya cukup aktif di kampus, datang kepadanya, dan mengatakan dia ingin menajdi pendampingnya, wanita itu mengatakan hal yang tak sepantasnya dikeluarkan.
“Kamu berkaca dulu!”, begitulah kuranglebih redaksi kata yang diberikannya kepada lelaki yang merupakan seorang pelatih beladiri.
Setelah wanita itu lulus dari kuliahnya, akhirnya menikah dengan seorang pria yang berasal dari pengusaha yang cukup terkenal di kota Samarinda. Tapi, setelah menikah, kami baru tahu, lelaki itu jauh dari tampan baik wajah dan raganya, bahkan kemampuan otaknya. Walau dia berasal dari keluarga mampu, ternyata dia tak mampu untuk meneruskan sekolah di perguruan tinggi karena lelaki yang menjadi suaminya itu, tak bisa berpikir telalu keras. Mulai dari kecil, dia selalu dipenuhi permintaannya, bila tidak, dia akan mengalami kejang-kejang. Dan mental yang lemah itu terbawa hingga dia dewasa.
Cukuplah dua cerita wanita di atas aku sampaikan kali ini. Dua wanita yang merasa dirinya ‘lebih’ hingga mampu mengoyak perasaan oranglain, dan mungkin pula orang yang telah ditusukkan pedang katanya yang tajam, berbisik kepada Penciptanya atas penghinaan yang dilakukan kepada dirinya, yang notabene juga merupakan hasil ciptaan Allah Swt.
Balasan yang diterima kedua wanita itu, mungkin hasil dari dosa mulut yang telah dilakukannya. Aku hanya bisa mengatakan mungkin, karena hanya Allah Swt. yang tahu hal ynng sebenarnya.
Sangatta, 16 September 2011
Halimah Taslima
Forum lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sangatta
Halimahtaslima@gmail.com