Tazkiyah An-Nafs (membersihkan jiwa) merupakan salah satu tugas yang dpikul Rasulullah SAW., sebagaimana firman Allah surat Al-Jumu’ah ayat kedua. Karenanya, siapapun yang mengharapkan Allah SWT dan hari akhir, mesti memperhatikan kebersihan jiwanya.{Artikel Tentang:Sudahkah Niat Kita Ikhlas Karena Allah?}
Allah SWT juga telah menjadikan kebahagiaan seorang hamba tergantung kepada tazkiyah an-nafs. Hal ini dicantumkan di dalam Al-Qur’an surat As-Syams dari pertama sampai ayat kesepuluh setelah disebutkannya sebelas sumpah secara beruntun.
Dalam mengkaji dan mengamalkan tazkiyah an-nafs ini tak lepas dari niat dan ikhlas. Keduanya merupakan syarat diterimanya amal seorang hamba.
Niat bukan sekedar ucapan nawaytu (saya berniat). Lebih daripada itu, ia adalah dorongan hati seiring dengan pembukaan dari Allah SWT. Kadang ia mudah dicapai, tetapi kadang juga sulit. Seseorang yang hatinya dipenuhi dengan urusan din, akan mendapatkan kemudahan dalam menghadirkan niat untuk berbuat baik. Sebab ketika hati telah condong kepada pangkal kebaikan, ia pun akan terdorong untuk cabang-cabang kebaikan.{Artikel Tentang:Sudahkah Niat Kita Ikhlas Karena Allah?}
Sebaliknya, orang yang hatinya dipenuhi dengan kecenderungan kepada gemerlap Dunia, akan mendapatkan kesulitan besar untuk mencapainya. Bahkan dalam mengerjakan yang wajib sekalipun. Untuk menghadirkan niat dengan baik, ia harus bersusah payah.{Artikel Tentang:Sudahkah Niat Kita Ikhlas Karena Allah?}
Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab r.a.(hadits nomor 1 pada Arba’in Nawawi) “Innamal a’malu binniyat…(Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya)…” (HR. Bukhori), berarti, baiknya amal yang dikerjakan sesuai sunnah itu tergantung kepada kebaikan niatnya. Tapi, tak jarang seseorang berubah niatnya di pertengahan jalan. Jadi niat itu harus benar di awal, di pertengahan dan di akhir. Ini seperti sabda beliau SAW., “Innamal a’malu bilkhowaatiimi…(Sesungguhnya setiap amal tergantung pada akhirnya)…” (HR. Bukhari)
Ketaatan bisa berubah menjadi kemaksiatan karena niat. Begitupun perkara yang mubah bisa menjadi kemaksiatan dan bisa juga menjadi ketaatan karena niat. Sedangkan kemaksiatan tidak akan berubah menjadi ketaatan karenan niat. Tetapi justru masuknya niat ke dalam kemaksiatan akan menambah berat dan dosa dari kemaksiatan itu.
Pada dasarnya, keabsahan suatu ketaatan itu terkait kepada niat. Begitu pula dengan pelipat gandaan pahanya. Sehubungan dengan keabsahan, seseorang harus meniatkan ketaatannya sebagai ibadah kepala Allah SWT saja. Jika ia meniatkan riya’, maka hal itu akan berubah menjadi kemaksiatan.{Artikel Tentang:Sudahkah Niat Kita Ikhlas Karena Allah?}
Begitu utamanya niat, sehingga Rasul SAW dan para sahabatnya memberikan contoh yang baik untuk generasi setelah mereka. Sepert yang dikatakan Umar bin Khaththab r.a., “Amal yang paling utama adalah melaksanakan kewajiban dari Allah SWT., bersikap wara’ terhadap yang diharamkanNya, dan meluruskan niat untuk mendapatkan pahala dari sisiNya.”{Artikel Tentang:Sudahkah Niat Kita Ikhlas Karena Allah?}
Sebagian Salaf berkata, “Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat. Betapa banyak pula amalan besar menjadi kecil karena niat.”
Yahya bin Abu Katsir berkata, “Pelajarilah niat! Sesungguhnya niat itu lebih dapat menyampaikan kepada tujuan daripada amal.”
Sementara ikhlas artinya memurnikan tujuan bertaqarrub kepada Allah SWT dari hal-hal yang mengotorinya. Arti lainnya; menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan.
Ikhlas adalah syarat diterimanya amal shalih yang dilaksanankan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Allah telah menyuruh kita untuk berbuat ikhlas dalam surat Al-Bayyinah ayat 5.{Artikel Tentang:Sudahkah Niat Kita Ikhlas Karena Allah?}
Seorang hamba hanya kan selamat dari godaan syetan dengan keikhlasan, sebagaimana firman Allah SWT yang mengungkapkan pernyataan iblis, “Kecuali hamba-hambaMu yang selalu ikhlas.” (QS. Shad [38] : 83). Diriwayatkan, sesorang yang shalih berkata kepada dirinya sendiri. “Wahai diri, ikhlaslah, maka kamu akan selamat!”
Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala kotoran–sedikit maupun banyak- sehingga tujuan dari taqarrub benar-benar murni karena Allah SWT., bukan yang lain. Hal ini hanya bisa diwujudkan oleh seseorang yang mencintai Allah SWT. dan menggantungkan seluruh harapannya di Akhirat.
Resep untuk ikhlas adalah memupus kesenangan-kesenangan hawa nafsu, ketamakan terhadap dunia dan mengusahakan agar hati selalu terfokus pada akhirat. Hal ini akan sangat memudahkan seseorang menggapai keikhlasan.{Artikel Tentang:Sudahkah Niat Kita Ikhlas Karena Allah?}
Pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW., kisah seseorang yang baru masuk Islam lalu ikut berperang bersama Rasul SAW. Setelah berperang dan kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan ghanimah yang banyak, lalu diutus oleh Rasul SAW. Beberapa sahabatnya untuk membawa ghanimah yang menjadi hak pemuda yang baru masuk Islam tersebut. Namun, setelah diberikan oleh para sahabat Rasul SAW., pemuda tersebut menolak dengan berbagai alasan. Sehingga para sahabat yang diutus kebingungan, mereka tidak mau membawanya lagi kepada Rasul SAW.tanpa kesertaan pemuda itu. Akhirnya berangkatlah pemuda itu bersama para sahabat menghadap Rasul SAW. “Wahai Rasul SAW bukan untuk ini aku berperang (untuk mendapat ghonimah), tapi aku berperang agar anak panah menancap di leherku,” tegas pemuda itu. Pada peperangan berikutnya, usai peperangan para sahabat memberitahukan kepada Rasul SAW tentang beberapa orang yang syahid. Diantaranya ada seseorang yang syahid dengan anak panah yang menembus lehernya. Ternyata, setelah diteliti oleh Rasulullah SAW. adalah pemuda yang baru masuk Islam tersebut. Allah telah membuktikan kebenaran ucapan anak muda tersebut, karena cintanya kepada Allah dan hari akhir bukan kepada ghanimah atau dunia, yang kata Rasul SAW., itu adalah sampah.{Artikel Tentang:Sudahkah Niat Kita Ikhlas Karena Allah?}
Dari uraian di atas, sudahkah amal-amal yang kita lakukan ikhlas karena Allah SWT semata? (mzs)