Sebelumnya, pejuang Taliban melakukan serangan militer ke basis pasukan Nato dan ISAF, di ibukota propinsi, seperti Kandahar, Wardak, Bahman, serta Paktia, diwilayah selatan, yang dekat perbatasan dengan Pakistan.
Sekarang Taliban memusatkan serangannya ke ibukota Kabul. Sitausi di ibukota Kabul penuh dengan kekacauan, karena pasukan Nato dan pemerintah tidak dapat mengantisipasi serangan pejuang Taliban, yang sifatnya dadakan.{Artikel tentang:Ibukota Kabul Terkepung}
Pejuang Taliban menyerang ibukota Kabul, Selasa pagi, 13 September, dan dengan tiga serangan terkoordinasi, ungkap laporan The Guardian. Serangan yang besar itu dipusatkan terhadap sasaran yang menjadi pusat kepentingan Amerika di Kabul, yaitu Kedutaan Besar AS serta Pusat Operasi NATO.
Sementara pejuang Taliban dengan tiga pembom bunuh diri melakukan serangan di kota pinggiran Kabul, yang memecah perhatian pasukan Nato dan pemerintah, ungkap laporan Reuters. Para pejuang Taliban menggunakan gedung-gedung di belakang Kedutaan Besar AS, menjadi tempat menyerang, kata laporan Los Angeles Times.
"Para pejuang tampaknya menguasai sebuah gedung tinggi sebagai pertahanan untuk menyerang dengan roket dan senjata otomatis. Sebuah taktik yang digunakan sebelumnya dalam melakukan serangan serupa di kota lainnya", ungkap Los Angeles Times.{Artikel tentang:Ibukota Kabul Terkepung}
Reuters melaporkan bahwa sedikitnya 9 orang tewas dan 23 terluka akibat pertempuran yang terjadi antara pejuang Taliban dengan pasukan Nato, Selasa malam.
Serangan itu terjadi hanya satu hari setelah Duta Besar AS Ryan Crocker mengatakan bahwa masalah yang dihadapi terburuk Kabul hanya soal "lalu lintas." Serangan yang sangat mematikan itu, mengkawatirkan bagi pasukan Nato, yang akan hengkang dari Afghanistan.{Artikel tentang:Ibukota Kabul Terkepung}
Serangan pejuang Taliban terhadap ibukota Kabul pada Selasa, hanya menggambarkan situasi Kabul sudah tidak aman lagi bagi kepentingan Amerika Serikat dan Sekutunya. Nampaknya, para pejuang Taliban dengan mengingtensifkan serangannya ke ibukota Afghanistan itu, ingin segera mengakhiri pendudukan Amerika di negeri itu. (mh/tm)