“DIMANA BUMI DIPIJAK, DISITU KAU PUNYA TANGGUNG JAWAB TERHADAP ISLAM”
Siapa pun yang bertemu di pondok pesantren Ngruki, tanpa kecuali harus diterima oleh Bagian Penerima Tamu[BAPENTA]. Setelah itu, bias tamu cukup diterima dan ditemui di ruang ini, atau kemudian diantar ketempat yang hendak ditemui. Itulah tatanan di Gerbang Utama Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin, Ngruki, Grogol, Sukoharjo-Jawa Tengah----sekira lima kilometer arah selatan Surakarta.
Predikat “miring”yang disandang pondok pesantren islam Al-Mukmin, tidak dapat dielakkan. Terlebih setelah sejumlah alumninya terlibat dalam sejumlah aksi “jihad” yang berani di sejumlah wilayah nasional maupun regional. Pihak berwajib di Indonesia, Regional maupun Internasional, mengkategorikan aksi tersebut sebagai teroris yang kemudian menyeret sesepuh pesantren ini, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.
Ketika Suara Islam berkunjung, Kamis [08 Maret 2012], tidak dapat ditemui Direktur Pondok KH.Wahyudin. Ini, bukan menambah kesan ketertutupan Pondok Pesantren---yang kemudian dikenal dengan sebutan Ngruki. Tapi, memang salahnya sebelumnya tidak membuat janji, sehingga terasa cukup mendadak, dan besar kemungkinan tidak sejalan dengan jadwal yang sudah di susun untuk kesibukan Direktur di hari itu.
Beruntung masih dapat ditemui oleh salah seorang pengasuh. Lebih beruntung lagi, pengasuh yang menemui adalah Ustadz Abdurrahim, yang tidak lain adalah bungsu, dari tiga putra UstadzKH.Abu Bakar Ba’asyir. Namun, memang tidak dapat terlalu lama. Selama menemui, dan berbincang, beberapa kali harus berhenti karena telepon seluler di kantongnya terus menerus bordering dan mesti diterimanya.
Tentang tanggungjawab terhadap Islam, Ustadz Abdurrahim mengungkap;Kemenangan untuk Islam, sudah merupakan ketentuan Allah. Namun Islam member tantang kepada umatnya untuk membuktikan;apa yang sudah dilakukan untuk Islam. Berbuat untuk Islam, ada yang benar-benar diniatkan untuk kejayaan Islam. Tapi, tidak sedikit yang berbuat sebenarnya hanya untuk kepentingan duniawi. Bahkan ada pula yang untuk mencari selamat.
Sebagai lembaga tarbiyatul, Pondok Pesantren Ngruki mengembangkan visi”Terbentuknya generasi muslim yang siap menerima dan mengamalkan Islam secara Kaffah,” dan salah satu dari tiga misi-nya ; “mencetak kader ‘Ulama dan Cendikia yang ‘Amilin fi Sabilillah,” sejalan dengan upaya mencetak ummat yang siap menjawab tantangan islam untuk membuktikan “apa yang akan dan sudah dilakukan untuk Islam.
Jika kemudian timbul kesan dan predikat “miring” terhadap Pondok Pesantren ini, menurut Ustadz Abdurrahim, memang menjadi konsekwensi yang tidak dapat dielakkan. Kendati demikian, tidak justru kemudian mematikan pesantren ini. Ataupun menghancurkan kepercayaan ummat islam terhadap pendidikan dan pengajaran yang dikembangkan dan dilaksanakan di Pesantren ini. Justru sebaliknya, banyak pihak berkunjung untuk memenuhi keingintahuan lebih jauh tentang pesantren ini.
“Memang, kecepatan berkembang pesantren ini, tidak dapat secepat dan sehebat Pondok Modern Darussalam Gontor, dalam berkembang tidak untuk disaingi. Melainkan,layak ditiru. Terutama dukungan kekuatan Alumnidan tanah waqaf yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara,” papar Ustadz Abdurrahim.
Apakah Pondok Ngruki, kini juga mulai membangkitkan semangat berdirinya pondok pesantren yang dikelola oleh para alumninya salah satunya di wilayah Magetan, Jawa Timur. Dijelaskan, Pondok Pesantren Islam Darul Wahyain, di Sumberagung, Plaosan, magetan-Jawa Timur, didirikan oleh Ustadz Rasyid, kakak kandungnya. Secara lembaga tidak ada hubungan dengan Al-Mukmin Ngruki. “Kalau ikatan Batin, mesti ada, karena memang masih keluarga,” katanya dengan mengulas senyum.
Ditengah deraan tudingan dan predikat “miring” selama ini, tidaklah menjadikan Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin kemudian berhenti berkembang. Kini, dengan menempati areal seluas tidak kurang dari 6 hektar, harus menjadi tiga blok---tengah, utara, dan selatan. Dalam pertengahan dasawarsa 1980-an, areal pondok pesantren ini masih berada di pinggiran kota sukoharjo dan Surakarta. Perkembangan kini, justru menjadikan areal pondok pesantren ini berada di tengah antara kedua kota tersebut. Pondok Pesantren ini, kini tidak lagi berada di pedesaan. Melainkan menjadi pondok di tengah kota.
Dengan Jumlah santri lebih dari 1600, menjadikan berbagai sarana sudah tidak terasa longgar lagi. Perluasan-perluasan terus digagas. Kini, Masjid Tua yang menjadi bagian cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren ini pun, harus dirombak. Ustadz Abdurrahim, menyempatkan berhenti cukup lama di tengah kegiatan pembangunan masjid ini, layaknya hendak mengatakan “Pondok Ngruki, tidak berhenti berkembang”.