ini adalah posting artikel lanjutan kemarin...mohon dimaklumi tidak bisa sekaligus..
terimakasih
Menurut Al khaththath, penetapan Amerika itu membuat MA ngeper dan memilih menjadi sekutu si “Setan Besar” sebagaimana tawaran Bush. Pada 20 september 2001, dalam pidatonya di depan kongres AS, Presiden AS George W. Bushmemberi pilihan bagi seluruh bangsa di Dunia. Bush katakan: “Every nation in every region now has a decision to make: Either you are with us, or you are with the terrorist.”
Pada 19 september 2001, Presiden Megawati Soekarnoputri sowan ke Gedung Putih, Washington, Bertemu presiden Bush. Percakapan mereka diterjemahkan Fredericks Burks.
Sebagaimana dikutip harian The Washington Post edisi 9 desember 2004, Fred Burks mengungkapkan bahwa dalam pertemuan itu, Bush meminta pemerintah RI menyerahkan Abu Bakar Ba'asyir kepada pemerintah AS. Namun, Megawati menampiknya.
Burks juga membeberkan pertemuan rahasia di rumah Megawati di jalan Teuku Umar Jakarta, pada 16 september 2002, yang dihadiri oleh Ralph R. Boyce, duta Besar AS untuk indonesia pada saat itu, Karen Brooks, direktur Asia dari National Security Council, dan dirinya.
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 20 menit itu, pihak AS kembali meminta agar Ba'asyir diserahkan kepada Amerika. Namun,lagi-lagi Mega menolak.
Dan,tiga pekan kemudian, tepatnya pada 12 oktober 2002, Booom,bali meledak.Momentum ini menjadi starting point “perang melawan teroris” di Indonesia.
Menurut Abdurrahman Wahid, dalang teror bom bali 12 oktober 2002adalah agen-agen intelijen militer dan polisi yang didanai oleh Intelijen Barat yaitu CIA,Mossad,dan MI-6[SBS,Melbourne Independent media Center,Australia,17/10/2005].
Ustadz Abu Bakar Ba'asyir diuber uber setelah itu. Sesudah ditahan dan melalui serangkaian “pengadilan sesat”, Ustadz Abu pada 2003 dihukum 1,5 tahun penjara dengan tuduhan Pelanggaran keimigrasian. Bukan lantaran kegiatan terorisme. Tak lama setelah keluar dari penjara, ia ditangkap lagi dan di bui 7 bulan. Lagi lagi bukan lantaran soal teror.
Tapi,rupanya Australia sudah lebih dulu memvonis sang ustadz sebagai gembong teroris. Menteri kehakiman Australia, Chris Ellison, menyebut Ba'asyir sebagai pimpinan jama'ah Islamiyah. Tapi, tudingan itu tidak disertai fakta kepada publik sehingga bisa diverifikasi. Di persidangan pun tuduhan itu hanya menjadi bahan dagelan saja.
Saking kalapnya melihat kealotan jalannya persidangan atas Ustadz Abu, diplomat Australia Duncan Campbel meminta presiden SBY agar langsung menembak mati ABB saja tanpa perlu pengadilan agar tidak mahal Biayanya [Sidney Mornig Herald,19/12/2004]
Insyaallah bersambung ke bagian selanjutnya.