Gagal dengan tuntuan maksimal itu,berulangkali Australia memprotes keras terhadap pemberian remisi [pengurangan hukuman] bagi Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. PM John Howard, seperti dikutip AFP, mengatakan bahwa remisi Ba'asyir akan menimbulkan “kemarahan yang dalam dan abadi” di negaranya.
Duta Besar Australia di jakarta, David Ritchie, menyatakan, “Masyarakat Internasional tidak memiliki simpati terhadap orang-orang seperti Ba'asyir, yang terbukti di pengadilan terlibat konspirasi dalam kasus Bom Bali I yang menewaskan 202 orang, dan 88 orang diantaranya warga Australia. Apakah orang yang telah membunuh 202 orang tersebut layak mendapatkan remisi?” [Jawa Pos, 14/11/2005].
Tak hanya itu. Kedubes Australia pun sampai mengutus petugasnya ke lapas cipinang untuk memeriksa dokumen pengajuan remisi Ustadz Ba'asyir.
Menangani polah Australia tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla waktu itu menyindir, “Memang,untuk luar negeri, apapun yang terjadi di Indonesia, selalu dikait-kaitkan dengan pendukung Abu Bakar Ba'asyir.”
Stelah sempat Bebas, Ustadz Abu ditangkap lagi pada senin, 9 agustus 2010, di tengah perjalanan dari tasikmalaya ke solo. Bagai teroris Kelas kakap, ia dicegat di banjar, Jawa Barat, kemudian dibawa ke polres Banjar lalu ke Jakarta. Penangkapan berlangsung dramatis, polisi memecahkan kaca mobil yang ditumpangi Ba'asyir.
Menurut pengacara Abu Bakar Ba'asyir, Ahmad Michdan, dakwaan JPU terhadap kliennya sumir. Khususnya berkaitan tuduhan terlibat perampokan Bank CIMB di Medan dan pelatihan militer di Aceh.
Kedua peristiwa tersebut, jelas Michdan, tak bisa langsung dituduhkan sebagai aksi terorisme. Lagipula perampokan di Medan terjadi ketika Ustadz Abu sudah di dalam Tahanan. Sehingga, peristiwa itu tidak bisa diajukan delik hukum baginya.
“Bagaimana bisa orang ditahan dulu, baru diajukan delik hukum,” tandas Michdan.
Mengenai sejumlah kejadian di Medan, Kapolda Sumut Irjen Pol Oegroseno waktu itu sudah mengeluarkan pernyataan yang bersebrangan dengan Mabes Polri waktu itu. Kapolda Menegaskan, serentetan peristiwa di kota Medan dan sekitarnya, mulai perampokan Bank CIMB Niaga, hingga penyerbuan Mapolsekta Hamparan perak, dilakukan oleh sisa separatis, bukan teroris.
Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara di sebuah forum diskusi antara Kapoldasu dengan sejumlah Ormas Islam, MUI Medan dan jajaran Pemko Medan di Ruang Rapat IV, Balai Kota, 23 September 2010.